Riwayat Cinta

Engkau datang disaat aku sendiri
Coba ‘tuk telanjangi rasa sepi
Berharap pada satu janji
Kau ‘kan menjemputku disini

Satu tahun aku menanti
Kau hilang kembalikan sepi
Perih menggores hati
Kemanakah kau pergi?

Kala ‘ku tak lagi sendiri
Cintamu datang mencari
Dan kau t’lah pergi
Pergi saat ‘ku sendiri lagi

Lebih dari seribu hari
Hati kita kembali bersemi
Sang sepi menjadi iri
Diterjang cinta mentari hati

Entah kemana kelana cinta ini
Entah dimana kita telah berlabuh hati
Entah berapa lama kita tabur sepi
Semua seperti mimpi

Satu hari telah terjadi
Cincin melingkar mengikat janji
Kita tak lagi sendiri
Sepi pun telah pergi

Bersama kita kini
Berpeluh kita meniti hari
Ini bukan mimpi
Cinta kita t’lah kembali

Berapa ribu hari t’lah kita lalui?
Berapa duka t’lah kita hadapi?
Berapa cinta telah kita singgahi?
Kini kita telah berjalan pada janji sehidup semati

Ingatkanku selalu akan riwayat cinta itu
Karena kita tak lagi dalam sepi
Kita tak lagi sendiri
Kita telah menjadi satu dalam dua hati

Category: poems  Tags:  13 Comments

Dua Lelaki

Terjatuh aku di pelukan dua lelaki
Dua jiwa yang membuatku tak mau pergi
Bahagia aku diantara dua cinta
Terlena, terbenam dalam buah asmara

Lelaki membenam dalam hangat pelukan
Lelaki membuai dalam kemesraan
Dua lelaki ‘tak saling cemburu
Lelap disisiku dalam satu kelambu

Didadaku lelaki mencari kehangatan
Disisiku lelaki memberi kehangatan
Jiwaku tertancap pada mereka
Tak bisa kupilih siapa

Kau lelaki membakar asmara
Api cinta yang semakin membara
Kau lelaki tak saling membenci
Menemaniku menebas sepi

Wahai dua lelaki kekasihku
Ijinkan ‘ku selamanya dalam pelukmu
Dua lelaki tetaplah disisi
Bersamaku tetaplah meniti hari

Dua lelaki kekasihku selamanya
Menebar sejuta cinta di peraduanku bersama
Dua lelaki menyeruak kalbu
Menerjang kesepianku

***********
Teruntuk dua lelaki yang membuatku jatuh cinta
Suami tercinta Roni Rudianto Nababan “Ginting”
Putraku tercinta Juan Edric Conroy Nababan “Ginting”

Category: poems  Tags:  5 Comments

Tipe Suami Manakah Anda?

Tipe suami manakah anda? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pribadi yang sudah pernah mengarungi bahtera rumah tangga. Baik yang kini telah sendiri atau masih hidup berdampingan dengan pasangan hidupnya.

Suami Angin-Anginan
Ini adalah tipe suami yang saya anggap seperti angin. Dulu ketika pacaran atau sebelum menjadi suami, tiada hari tanpa kata sayang, rindu, rayuan, perhatian bahkan 24 jam itu kurang untuk bertemu, bertelepon, atau ber SMS ria. Diawal pernikahan rasa yang diberikan itu masih sama. Masih manis. Meski terkadang dibumbui pertengkaran dan perbedaan pendapat.
Seiring waktu rasa itu berkurang. Kata sayang itu mulai hilang, mungkin kata “I Love You” yang sering terucap sudah dianggap basi.
Suatu hari istri anda masih terus mengucapkan kata itu. Masih bertanya “Sehat sayang?” lalu anda menjawab “Sehat”, “Sudah makan sayang” dan anda menjawab “Sudah”. Adakah yang terlupakan? Anda bahkan tidak lagi bertanya kabar istri anda, menanyakan dia sudah makan atau belum. Jangankan menelepon, mungkin untuk mengirim SMS saja sudah tidak sempat.
Tahukah anda, uang yang melimpah tidak ada artinya baginya ketika sebuah perhatian kecil mulai hilang. Ketika dia lelah bekerja di rumah, mengasuh anak-anak anda, hanya Cinta dan perhatian kecil seorang suami menjadi obat terbaik. Wanita memang sensitif yang mudah tersentuh hatinya, yang bisa membeku ketika rasa itu semakin hambar. Bahkan kehilangan nafasnya ketika merasa dia tak lagi dicintai. Seperti hidup bersama angin yang begitu sepoi dan perlahan menjadi badai yang menghempas.

Suami Batu Karang
Mengapa saya sebut suami batu karang? Karena Anda adalah suami yang tetap teguh, tidak goyah dalam Cinta. Tidak ada bedanya antara masa pacaran atau sebelum menikah dengan sesudah menikah. Bahkan semakin bertambah usia pernikahan, semakin manis rasanya. Semakin banyak kata sayang, kata cinta, perhatian, senyuman, tawa. Ketika badai terhebatpun datang, anda masih mampu berkata “I Love You”. Bahkan dihari tua anda dan pasangan akan selalu rindu menapaki kembali tempat-tempat indah semasa muda.
Saya yakin betapa beruntungnya istri yang hidup bersama Suami Batu Karang. Semua rasa lelah yang dirasakannya seakan menjadi makanan yang lezat.

Setiap pribadi memiliki pilihannya masing-masing. Silahkan Memilih Ingin menjadi Pribadi mana sebagai suami. Karena tidak ada kata terlambat untuk menjadi keluarga yang lebih baik.

Category: Pernikahan  Tags:  4 Comments