Tipe suami manakah anda? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pribadi yang sudah pernah mengarungi bahtera rumah tangga. Baik yang kini telah sendiri atau masih hidup berdampingan dengan pasangan hidupnya.
Suami Angin-Anginan
Ini adalah tipe suami yang saya anggap seperti angin. Dulu ketika pacaran atau sebelum menjadi suami, tiada hari tanpa kata sayang, rindu, rayuan, perhatian bahkan 24 jam itu kurang untuk bertemu, bertelepon, atau ber SMS ria. Diawal pernikahan rasa yang diberikan itu masih sama. Masih manis. Meski terkadang dibumbui pertengkaran dan perbedaan pendapat.
Seiring waktu rasa itu berkurang. Kata sayang itu mulai hilang, mungkin kata “I Love You” yang sering terucap sudah dianggap basi.
Suatu hari istri anda masih terus mengucapkan kata itu. Masih bertanya “Sehat sayang?” lalu anda menjawab “Sehat”, “Sudah makan sayang” dan anda menjawab “Sudah”. Adakah yang terlupakan? Anda bahkan tidak lagi bertanya kabar istri anda, menanyakan dia sudah makan atau belum. Jangankan menelepon, mungkin untuk mengirim SMS saja sudah tidak sempat.
Tahukah anda, uang yang melimpah tidak ada artinya baginya ketika sebuah perhatian kecil mulai hilang. Ketika dia lelah bekerja di rumah, mengasuh anak-anak anda, hanya Cinta dan perhatian kecil seorang suami menjadi obat terbaik. Wanita memang sensitif yang mudah tersentuh hatinya, yang bisa membeku ketika rasa itu semakin hambar. Bahkan kehilangan nafasnya ketika merasa dia tak lagi dicintai. Seperti hidup bersama angin yang begitu sepoi dan perlahan menjadi badai yang menghempas.
Suami Batu Karang
Mengapa saya sebut suami batu karang? Karena Anda adalah suami yang tetap teguh, tidak goyah dalam Cinta. Tidak ada bedanya antara masa pacaran atau sebelum menikah dengan sesudah menikah. Bahkan semakin bertambah usia pernikahan, semakin manis rasanya. Semakin banyak kata sayang, kata cinta, perhatian, senyuman, tawa. Ketika badai terhebatpun datang, anda masih mampu berkata “I Love You”. Bahkan dihari tua anda dan pasangan akan selalu rindu menapaki kembali tempat-tempat indah semasa muda.
Saya yakin betapa beruntungnya istri yang hidup bersama Suami Batu Karang. Semua rasa lelah yang dirasakannya seakan menjadi makanan yang lezat.
Setiap pribadi memiliki pilihannya masing-masing. Silahkan Memilih Ingin menjadi Pribadi mana sebagai suami. Karena tidak ada kata terlambat untuk menjadi keluarga yang lebih baik.