Melalui sehari sendiri tanpa teman bicara, bukanlah hal yang mudah untuk di lalui. Mencoba berbaring dan menatap langit-langit kamar, berharap segera terbang di alam mimpi. Itu pun tak mampu bertahan begitu lama. Kesepian itu mencekam, Suara tetesan airpun tidak terdengar, hanya sesekali suara pesawat-pesawat kecil menderu begitu menyakitkan telinga melintas di langit.
Sebuah buku Karya Andrias Harefa menemani kesepian ini, tapi tidak cukup untuk memenangkan pertarungan melawan sepi, sesekali melepaskan sepi ini di depan Laptop dengan koneksi yang begitu lambat, kejenuhan menyelimuti penantian loading yang begitu lama.
Mataku tertuju pada rerumputan dan ilalang disana, terik membuat keengganan untuk berjalan dan melangkah di setapak jalan tanah tanpa aspal. Tidak terlihat sesiapapun yang melintas untuk disapa. Melangkah seribu kali melalui jejak-jejak yang sama menuju ruang yang sama. lalu duduk kembali di depan laptop menghilangkan jenuh dan kesepian.
Matahari telah tenggelam, kini mulai terdengar tetesan-tetesan air yang tertumpah ke dalam bak mandi yang telah mengering sedari siang, alirannya begitu kecil. Aku tahu begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya berisi dan penuh. Jenuhkan dia menanti aliran air itu seperti kesepianku ini ???
Malam menyelimuti, teman untuk bersenda gurau dan bercerita belum juga tiba, masih menanti dalam kesepian dan terus bertarung melawannya, karena aku tahu sebentar lagi dia akan tiba untuk menemani kesendirian ini.
Akankah pertarungan kesepian ini akan sama ketika esok pagi telah tiba????