Archive for the Category »Budaya «

Gereta Lembu

Gereta Lembu, alat transportasi tradisional Tanah karo

Gereta Lembu adalah salah satu alat transportasi  yang digunakan di daerah tanah karo.

Gereta artinya Kereta / Pedati

Dahulu, secara umum masyarakat di tanah karo menggunakan gereta lembu untuk pergi ke ladang / ke kebun. Namanya saja gereta lembu, tapi yang membawa bukan lembu / sapi, melainkan kerbau. (dalam bahasa karo disebut kerbo)

Gereta lembu ini di rakit dengan memanfaatkan bahan kayu, dibuat berbentuk kotak, dengan ukuran tertentu, memiliki 2 buah roda, memanfaatkan roda /  ban mobil.  Nantinya alat transportasi tradisional ini akan di manfaatkan untuk mengangkut petani atau barang-barang yang dibawa ke ladang.

Dahulu, anak sekolah sering sekali menumpang gereta lembu untuk berangkat ke sekolah, karena pada masa itu sekolah masih jarang, dan jaraknya sangat berjauhan.

Gereta lembu sampai saat ini masih digunakan oleh beberapa masyarakat di pedesaan, dengan kemajuan teknologi, maka alat tranportasi yang tidak menimbulkan polusi ini sudah mulai tersingkir.

Bagaimana cara mengendarai gereta lembu?

Seutas tali akan diikatkan pada kerbau, hampir sama dengan cara memacu kuda. Maka supir gereta lembu akan memberi perintah ke pada kerbau. Dua perintah yang di kenal dalam mengendarai gereta lembu adalah `How` dan ‘is’, wah unik juga ya, mirip-mirip Bahasa Inggris.

how” artinya Berhenti, dengan perintah tersebut, saat pengendara menghentakkan tali dan mengatakan ‘how‘ maka kerbau akan berhenti berjalan.

is‘ artinya jalan, dengan menghentakkan tali dan berkata ‘is‘ maka kerbau akan kembali berjalan.

Anda sudah pasti bisa membayangkan apa yang terjadi sepanjang perjalanan menggunakan gereta lembu ini. Setidaknya sepanjang  pedesaan akan bertebaran kotoran lembu.Ini sudah biasa kita temukan, jika kita ke daerah perkampungan yang masih memanfaatkan kerbau untuk membajak dan menggunakan  Gereta Lembu sebagai alat transportasi.

Secara umum, wanita yang pergi ke ladang menggunakan Tudung di kepalanya untuk menghindari panas terik.

Apa itu Tudung dan bagaimana cara memasangnya? Tunggu di postingan berikutnya
Apakah ada kendaraan tradisional serupa di daerah anda?

 

Catatan : Gambar diambil dari kumpulan poto Mozaik karo mejile, dalam pembuatan film Nande Rudang, mengangkat tentang budaya karo.

 

 

Ngamen Ala Pengantin Karo

Dalam adat istiadat Batak Karo, dikenal sebuah istilah “Njayo”, yang artinya Sepasang manusia yang Menikah dan meninggalkan orang tuanya untuk membentuk sebuah Rumah tangga baru.

Dalam Adat Istiadat pernikahan Karo dikenal Pula istilah “Sen Penjayon” ; yang artinya uang yang digunakan sebagai modal untuk berumah tangga bagi pengantin baru.

Untuk mendapatkan “sen penjayon”  tersebut, maka pengantin pria dan wanita akan bernyanyi dan menari di depan semua undangan, secara bergantian. Berdasarkan Kedudukannya dalam adat istiadat, maka undangan akan secara bergiliran menyelipkan lembar uang ke tangan pengantin, dengan jumlah se-iklhas mereka. Ini merupakan bagian yang cukup menarik.

Pengantin juga harus ngamen ya.. :)

Pendapatan Hasil Ngamen ala pengantin ini akan diumumkan di hadapan semua undangan, dan jrenggggggg.. Waktu itu terkumpul sebesar Rp. 5. 175.000,- Lumayan dehhhhhh ..! :D , bisa beli periuk, kuali, dkk nya :D