Peluh membasahi tubuhnya, rambutnya merah mengering, bola matanya hitam tajam, bahunya kekar, langkahnya panjang dan tak ragu. Dialah sang pengelana
“fuhhh” kepalanya bergerak menuju kain yang bertengger di bahunya, keringat mengucur dari pelipis turun ke seluruh tubuhnya.
Terik dilalui dengan penuh semangat.
“Aku datang sahabat !” Serunya dengan suara lantang
Tangannya mengorek-ngorek diantara batu dan tanah yang keras, kulit tangannya terlihat mengapal berwarna kekuningan dan menebal. Tongkat kayu kecil yang dibawanya ikut bekerja membuat lubang yang sedikit lebih dalam. Dia telah membuat 20 Lubang disana.
“aha..! selesai ! pengelana tersenyum sembari mengeluarkan beberapa Pohon kecil yang dibawanya.
“Cepatlah Tumbuh pohon kecilku, agar bumi tersenyum selalu untukmu” Coloteh pengelana sembari memercikkan air diantara pohon-pohon kecil.
“Langit!
“Lihatlah..! akan tumbuh hijau daun untuk kau sirami”
“Tanah!”
“Rasakanlah! akan lahir akar-akar kecil menembus kulitmu, menjadi tulang bagimu untuk kuat menahan terjangan air yang mengalir deras”
“Angin!”
“Nikmatilah! kau akan terasa begitu sejuk dan dingin dimalam hari”
Teriakan pengelana menggema diantara ribuan Pohon ditengah hutan yang terjamah oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Tangan yang mencabik-cabik keindahan alam, merampas warna-warna pelangi, membisukan nyanyian-nyanyian merdu, mereka yang membakar kesejukan bumi.
“Airku tak lagi bening” celoteh pengelana
Keruh air sungai mengalir diantara dua pohon tua, tangannya yang tak bersih seperti mereka yang duduk di kantor menikmati uang jerih payah orang kecil, mengambil tumpukan sampah yang singgah di tengah hutan terbawa aliran air.
“Mungkin 100 tahun lagi kalian akan membusuk disana” tangannya terus membuat lubang besar dan menanam sampah itu lebih dalam.
“Tersenyumlah sungaiku, aku akan selalu datang untuk membantumu” gumam pengelana dengan suara lirih.
“Aku masih ada disini”
“Aku tak akan berhenti untukmu”
“Jika nafasku berhenti, maka berhenti untuk membuat bumiku tersenyum”
“Aku masih ingin mendengar longlongan sanga penjaga malam”
“Aku masih ingin melihat tarian sang penghuni alam”
“Aku masih ingin menyisakan setitik air bersih untuk anak-anak Negeri”
“Jangan Menangis Bumiku, Aku masih ada diantara mereka yang tak perduli”
Senja mulai memerah, mengintip dibalik dedaunan, waktunya bagi pengelana untuk pulang, menikmati hidangan sederhana. Kakinya melangkah tegar menapak tanah, melewati hijau dedaunan, nyanyian jangkrik menyambut sang malam.
“Besok Aku kembali, membawakan bibit kecil untuk kalian” Pengelana tersenyum pada tanah tempatnya berpijak.
————————————————
Sekedar cerita monolog.
Nantikan Celoteh pengelana dalam seri berbeda.
“Aku adalah Milik Bumi dan Bumi adalah milikku, Aku menjadi hancur saat Bumi menjadi hancur, Aku dan Bumi adalah satu untuk saling menjaga”