Cerita sebelumnya dalam Kisah Misteri di Balik Layar, dapat dibaca di SINI

=======================================================
Di balik layar banyak orang berkumpul, suasana sedikit hening dan begitu mencekam, Jasad Mudhoiso masih tergeletak menunggu polisi menuju TKP, Inspektur Suzana dengan awas mengamati setiap orang yang ada di sana. Terlihat wajah-wajah ketakutan, sedih dan terpukul, beberapa orang menatap marah kepada Rikmo Sadhepo.
Sesosok wanita muda perlahan bergerak terburu-buru menuju ruang make-up, gerak geriknya mencurigakan, diikuti oleh seorang wanita muda lainnya, dengan mata coklat dan rambut ditata rapi.
“Mohon tidak ada yang meninggalkan lokasi sampai polisi melakukan pemeriksaan” Tegas Inspektur Suzana.
“Sebentar Bu, ke ruang make-up” wajah mereka merah oleh teguran inspektur Suzana, dan sedikit terpukul oleh suasana yang seakan memojokkan mereka. Ada suasana yang berbeda di dalam ruang hias. Tampak kedua wanita itu ketakutan, saling menuding dan seperti membicarakan sesuatu. Inspektur Suzana hanya memandang dari balik kaca, tanpa sepengetahuan mereka.
Inspektur mengarahkan langkahnya menuju jasad Mudhoiso, matanya dibuka lebar-lebar dan tampak betapa tajam dia memandang, dan dia berbicara seakan berbisik dengan seorang polisi yang memberi tanda pada lantai dimana Mudhoiso tergeletak. Suasana takut dan cemas menghantui orang-orang disekitarnya.
“Ikut kami ke kantor polisi” Suara tegas Kepala penyidik mengagetkan Rikmo Sadhepo, ia kelihatan bersalah dan tidak berani menatap mata orang-orang. Sang kesatria Arjuno yang gagah berani menjadi sangat patuh, layaknya abdi mengikuti perintah tuannya, tidak lagi terlihat layaknya sang kesatria. Langkahnya gontai menuju kantor polisi.
Suasana di balik layar sedikit riuh, para wayang bertanya-tanya, Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah keris sungguhan telah menyabet leher pemeran cakil? Mengapa Mudhoiso sampai tergeletak tak bernyawa? Mata mereka tajam menatap kedua wanita muda tadi. Para wayang tidak yakin Rikmo Sadhepo tega melakukan hal tersebut.
Senja mulai menyelimuti langit yang terlihat hitam dan memerah, Inspektur Suzana ditemani seorang penyidik mengumpulkan beberapa orang di atas palaga dimana Mudhoiso meregang nyawa.
“Apakah kalian berdua mengetahui sesuatu” Mata tajam inspektur Suzana langsung mengarah pada kedua wanita tadi. Mereka adalah juru rias dan penata kostum para wayang bernama Jengkinem dan Lorogelis.
“Ti..ti..tidak” serempak mereka dengan gagap menjawab. Mereka salah tingkah, sambil sesekali matanya melirik kepada wayang berkostum Srikandi yang wajahnya cantik jelita, bernama Sukmowati Melati, satu-satunya putri pemilik teater wayang orang Blogcamp Budhoyo.
Inspektur telah menaruh curiga besar kepada Jengkinem dan Lorogelis. Tingkah mereka aneh semenjak kematian Mudhoiso, terlihat gelisah, gugup, ketakutan, bahkan berkali-kali ijin ke kamar mandi.
“Apa iya, seorang wayang Arjuno akan benar-benar membunuh Cakil di depan orang banyak”
“Impossible!”
“Tidak akan semudah itu”
Inspektur mencoba menyimpulkan semua kejadian itu di dalam pikirannya. Semua data dan fakta yang dilihat, didengar dan diteliti di TKP telah menjadi catatan tersendiri baginya. more…


