Archive for the Category »Contest «

Misteri di Balik Layar (2) – Sebuah Dendam

Cerita sebelumnya dalam  Kisah Misteri di Balik Layar, dapat dibaca di SINI

Misteri di balik layar

=======================================================

Di balik layar banyak orang berkumpul, suasana sedikit hening dan begitu mencekam, Jasad Mudhoiso masih tergeletak menunggu polisi menuju TKP, Inspektur Suzana dengan awas mengamati setiap orang yang ada di sana. Terlihat wajah-wajah ketakutan, sedih dan terpukul, beberapa orang menatap marah kepada Rikmo Sadhepo.

Sesosok wanita muda perlahan bergerak terburu-buru menuju ruang make-up, gerak geriknya mencurigakan, diikuti oleh seorang wanita muda lainnya, dengan mata coklat dan rambut ditata rapi.

“Mohon tidak ada yang meninggalkan lokasi sampai polisi melakukan pemeriksaan” Tegas Inspektur Suzana.

“Sebentar Bu, ke ruang make-up” wajah mereka merah oleh teguran inspektur Suzana, dan sedikit terpukul oleh suasana yang seakan memojokkan mereka. Ada suasana yang berbeda di dalam ruang hias. Tampak kedua wanita itu ketakutan, saling menuding dan seperti membicarakan sesuatu. Inspektur Suzana hanya memandang dari balik kaca, tanpa sepengetahuan mereka.

Inspektur mengarahkan langkahnya menuju jasad Mudhoiso, matanya dibuka lebar-lebar dan tampak betapa tajam dia memandang, dan  dia berbicara seakan berbisik dengan seorang polisi yang memberi tanda pada lantai dimana Mudhoiso tergeletak. Suasana takut dan cemas menghantui orang-orang disekitarnya.

“Ikut kami ke kantor polisi” Suara tegas Kepala penyidik mengagetkan Rikmo Sadhepo, ia kelihatan bersalah dan tidak berani menatap mata orang-orang. Sang kesatria Arjuno yang gagah berani menjadi sangat patuh, layaknya abdi mengikuti perintah tuannya, tidak lagi terlihat layaknya sang kesatria. Langkahnya gontai menuju kantor polisi.

Suasana di balik layar sedikit riuh, para wayang bertanya-tanya, Apa sebenarnya yang terjadi?  Apakah keris sungguhan telah menyabet leher pemeran cakil? Mengapa Mudhoiso sampai tergeletak tak bernyawa? Mata mereka tajam menatap kedua wanita muda tadi. Para wayang tidak yakin Rikmo Sadhepo tega melakukan hal tersebut.

Senja mulai menyelimuti langit yang terlihat hitam dan memerah, Inspektur Suzana ditemani seorang penyidik mengumpulkan beberapa orang di atas palaga dimana Mudhoiso meregang nyawa.

“Apakah kalian berdua mengetahui sesuatu” Mata tajam inspektur Suzana langsung mengarah pada kedua wanita tadi. Mereka adalah juru rias dan penata kostum para wayang bernama Jengkinem dan Lorogelis.

“Ti..ti..tidak” serempak mereka dengan gagap menjawab. Mereka salah tingkah, sambil sesekali matanya melirik kepada wayang berkostum Srikandi yang wajahnya cantik jelita, bernama Sukmowati Melati, satu-satunya putri pemilik teater wayang orang Blogcamp Budhoyo.

Inspektur telah menaruh curiga besar kepada Jengkinem dan Lorogelis. Tingkah mereka aneh semenjak kematian Mudhoiso, terlihat gelisah, gugup, ketakutan, bahkan berkali-kali ijin ke kamar mandi.

Apa iya, seorang wayang Arjuno akan benar-benar membunuh Cakil di depan orang banyak

Impossible!

Tidak akan semudah itu

Inspektur mencoba menyimpulkan semua kejadian itu di dalam pikirannya.  Semua data dan fakta yang dilihat, didengar dan diteliti di TKP telah menjadi catatan tersendiri baginya. more…

Kebangkitan Nasional itu “KECIL”

Ketika 20 Mei telah tiba, Indonesia sebagai Negara yang besar, beramai-ramai memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional, Kebangkitan yang “KECIL”, hanya bertindak dengan tindakan yang “KECIL”, yang terlihat efek-efek yang “KECIL” bahkan melalui bibir yang terlihat begitu “KECIL”.

Dan memang butuh waktu yang sebentar untuk membuat Bangsa ini jatuh dan terpuruk, tetapi butuh waktu yang sangat panjang untuk membuka mata, berdiri, bangkit dan belari pada satu tujuan yang telah lama diimpikan. Waktu yang panjang itu akan terasa singkat jika kita memulai dari sini, dari sebuah semangat dan senyuman. Dari nyaringnya gaung Bhineka Tunggal Ika.

Senyuman “KECIL”  Bhineka Tunggal Ika

Jiwa Nasionalisme itu tidak tumbuh begitu saja ketika kita duduk di Bangku Sekolah atau ketika bertekad menjadi seorang Politikus. tetapi itu lahir dari sebuah keluarga dan lingkungan dimana kaki kita berpijak. Dari tubuh-tubuh KECIL yang dididik untuk saling merangkul dan berbagi keceriaan.

Ketika saya harus mengikuti suami di Bumi INTIMUNG -Malinau-KalTim, Maka Makna Bhineka Tunggal Ika itu Semakin Bermakna, Rasa Nasionalisme itu semakin Kental, Meski INTIMUNG bukan Kota yang besar, tapi Rasa Nasionalisme itu begitu besar, karena kehadiran tubuh-tubuh KECIL itu.

Mereka adalah Risma (Si kecil dari Suku Bugis-Sulawesi), Mala (Putri Bima NTB), Andhika (Putra Tidung Asli Malinau), Rahmat (Putra Jawa), Jika Si-KECIL ini tidak ditanamkan Rasa Kebersamaan dan Kesatuan, maka senyuman itu tidak akan pernah ada. Kegembiraan itu akan hilang.

Bangkitnya Bangsa ini adalah Bagaimana Sebuah Keluarga Membina dan Mendidik anak-anak semenjak dini mengerti arti kebersamaan berbagi dan menghargai.  Menanamkan Moral dan Mental yang baik akan menciptakan Generasi Muda yang Layak untuk menjaga Stabilitas dan rasa memiliki. Yang mengerti akan pentingnya menjaga martabat sebuah Bangsa, yang tidak akan menyia-nyiakan masa depan mereka untuk hal-hal yang tidak berarti.

Senyuman anak-anak itu memang terlihat KECIL, Bahkan Kebangkitan Nasional itu juga telihat “KECIL” dan tidak nyata dari tindakan dan keceriaan mereka tetapi bermakna sangat besar bagi masa depan Bangsa Ini, Bangsa yang membutuhkan GAUNG Bhineka Tunggal Ika, yang lupa untuk saling melempar batu ketika berbeda pendapat, lupa untuk merusak aset negara ketika keinginannya tidak terpenuhi seluruhnya.

Bayangkan jika tubuh-tubuh kecil itu  kita didik untuk saling menghina semenjak dini, maka keterpurukan dan kejatuhanlah yang akan diterima Bangsa yang besar ini.

Kebangkitan Nasional dari wajah-wajah KECIL itu memang Hampir tidak Nyata, tapi Kami bisa tertawa bersama dalam segala keberbedaan, Karena Tubuh-tubuh kecil itu ternyata menceriakan hari-hari saya, ketika mereka datang hanya sekedar berteriak, melompat, tertawa atau menyantap apa saja yang ada di rumah mungil ini.

Inilah Bangsa yang sebenarnya. Bangsa yang mendidik Generasinya untuk selalu menciptakan kebahagiaan, kedamaian dan semangat. Karena tidak ada kata terlambat untuk Bangkit dan berjuang Meraih mimpi Bangsa ini. Kita memang terpuruk dalam banyak hal, tetapi kita bisa bangkit menjadi lebih besar dengan Menciptakan Generasi Muda yang Memaknai Rasa cinta dalam keberbedaan. Kebangkitan Nasional itu “KECIL”, tapi makna dan Pengaruhnya sangat BESAR.

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan  Indonesia Bangkit di BlogCamp

 

 

 

Paypal Cara termudah belanja online Sampai ke Pelosok

Beli Paypal  untuk Belanja Mudah Sampai ke Pelosok, bukan sebuah hayalan ataupun basa basi, bukan pula iming-iming menarik tanpa kebenaran. Meskipun saya tinggal di pelosok yang jauh dari jangkauan transportasi, dipinggiran pantai dan diperbatasan sebuah Negara, tetapi belanja secara online menjadi solusi terbaik yang pernah ada, mengingat untuk sampai kekota butuh waktu yang cukup lama, bahkan berhari melalui jalan darat.

Teknologi sudah menguasai Bumi, bahkan sampai ke pelosok-pelosok sekalipun, Internet bukan lagi sesuatu yang aneh maupun langka, bahkan teknologi sudah tidak mengenal usia tua atau muda.

Dunia jual belipun ikut berkembang  mengikuti teknologi, Internet bukan lagi hanya untuk chating, berkirim email, atau menuliskan sebuah artikel, tetapi sudah menjadi sebuah pasar online, pasar yang menyajikan segala bentuk kebutuhan primer, sekunder maupun tertier. Kebutuhan yang  objeknya terlihat nyata maupun objeknya tidak terlihat.

Ingin menjadi Pengusaha yang efektif dan efisien, more…