Archive for the Category »Family «

Langit itu sedekat ini

Rasanya tidak pernah menatap langit sedekat ini, Seumur hidup aku selalu menatap langit dan melihat langit itu begitu jauh. Langit itu begitu tinggi

Ternyata langit Malinau dan Tempat lain itu begitu berbeda, Seakan aku bisa menjangkaunya, menjunjungnya dekat di atas kepalaku.

Langit itu sedekat ini, Sedekat Ragaku dengan Raganya, Sedekat Jiwaku dengan Jiwanya, Sedekat Cintaku dengan Cintanya. Sedekat kerinduan kami mengarungi Rumah Tangga dengan Kebahagiaan.

Langit itu sedekat ini dan begitu Nyata, Indah dan menkjubkan. Terima Kasih TUHAN untuk semua Keindahan ini.

Category: Doa, Family, notice  Tags:  19 Comments

Dicium, dipeluk dan berhayal bersama

Di bawah sebuah Pohon Rambutan, dalam Ruang terbuka tanpa Dinding dengan Atap yang teduh, di Pamulang, aku duduk berdua dengannya. Sekali-sekali tangannya membelai rambutku dan Memelukku mesra sekali. Dia dekap tubuhku erat dan terkadang mencium pipiku.

Hari Itu bulan Juli tahun 1996, Aku masih duduk di kelas 3 SMU.  more…

Sanggupkah Aku hidup Bersamamu?

Pernikahan kami belum sampai seumuran Jagung, masih dalam hitungan bulan, pertemuan kamipun tidak sampai hitungan Jari, what..?! jari saya cuma 20 tapi jari 1 tangan saja tidak sampai. Jangan bilang Ini cerita pernikahan apa gebetan..!

Waktu itu saya sempet curhat  kepada Seorang Bapak,  “saya harus milih nikah apa sekolahan terus??”, Jawaban yang membuat saya kekeh untuk mengambil keputusan itu adalah “bahwa menikah itu penting, dan setelah menikah juga tetap  bisa belajar”. Thanks Dhe.

“Pak, saya mau nikah” Akhirnya saya beranikan mengutarakan keinginan ini kepada keluarga.

“Apa….? Dengan siapa??? orangnya mana???”

Pertanyaan sebenarnya tidak sampai disitu saja, sudah jelas itulah tanda ketidaksetujuan ayah saya. Mengerti dan sangat mengerti harapan dan keinginan mereka dari saya. Tapi saya sudah mengambil satu keputusan, bahwa saya akan menikah,dan saya sudah meyakinkan diri untuk menerima lamaran pria biasa tapi pejuang tanggung dan pekerja keras tersebut.

Saya gak mau jadi anak durhaka tanpa perestuan orang tua. Air mata ikut berjuang disana, mengingat usia dan  masa depan yang harus saya perjuangkan.

“Kalau mau menikah, bawa calonmu kesini..” Ampun, bagaimana saya mau membawa dia, sementara keberadaannya jauh di pulau seberang. Syukurlah keluarganya begitu mendukung saya, perjuangan mereka untuk datang kerumah keluarga saya, memohon kepada kakak dan abang saya, sampai akhirnya bertemu dengan ayah.

“Bapak gak yakin kamu akan sanggup hidup susah, gak akan sanggup hidup tinggal di pedalaman” Oh My God, hari itu ayahku benar-benar memvonis kemampuanku bertahan hidup, kesanggupanku menjalani hidup bersamanya. Setahuku kalimantan kan Gak hutan semua, Gak pedalaman semua. Banyak kotanya. Lagipula tinggal di hutan bukan dosa.

Sebelum kedatangan mereka ke rumah, maka saya harus menjalani sidang darurat, sebuah kondisi yang saya hindari dari awal, dengan menyibukkan diri mempersiapkan hidangan di dapur. Ternyata.. sidang tetap lah sidang.

“Kalau mau menikah Tinggalkan Studymu dan Jangan lagi bekerja, tapi kalau masih mau keduanya, tidak boleh menikah” Kalimat singkat tapi menyayat hatiku. Air mataku sudah berderai. Mulutku cuma diam dan membisu. Aku tidak berkata apa-apa saat itu kecuali, suara sesegukan saja yang terdengar. Ntah apa yang akan kukatakan kepada keluarganya saat mereka sampai. Pilihan berat bagiku.

Saat pertemuan keluarga, aku cuma terdiam, berharap Tuhan melembutkan hati ayahku, Aku bisa melihat wajah calon mertuaku pasrah mendengar setiap penolakan dan celoteh dari ayahku.

“halo..” Juru bicara dari keluarga peria menelepon calon suamiku

“Apa kau sudah serius mau menikahi si lely ini?” begitulah kalau seorang militer berbicara, pakai kata  kau kau kau kepada calon suamiku.

“Iya Bapa Tua (uda panggilan untuk orang tua/ kakak laki-laki orang tua kita)” suaranya sama tegasnya, mungkin karena dia juga anaknya seorang militer.

Dan, keputusan hari itu adalah, aku harus berhenti bekerja jika menikah. Hiks… Hal menyedihkan sekali sebenarnya. Meskipun diam-diam masih juga kerja. Gimana saya rela meninggalkan anak murid begitu saja.

Semua rencana saya pada awalnya ditolak oleh 90 % keluarga, yang pada akhirnya direstui oleh 100%  keluarga. Berkat perjuangan yang penuh air mata itu. Ternyata bukan hanya  di sinetron saja ada cerita seperti ini.

PERPISAHAN ITU

Pernikahan kami akhirnya berjalan sesuai rencana, dengan persetujuan orang tua dan memenuhi beberapa persyaratan dari orang tua saya. Pernikahan 2 adat istiadat yang membutuhkan banyak biaya, tenaga dan pikiran. Pernikahan yang menjadi awal kehidupan bagi saya.

Sebagai Restu kami diikat dalam restu dari Orang tua saya dengan sebuah lagu yang membuat saya menitikkan air mata :

Borhat ma dainang
Tubuan laklak ho inang tubu sikkoru
Borhat ma dainang
Tubuan anak ho inang tubuan boru
Horas ma dainang
Rongkapmu gabe helanghi dongan matua
Horas ma dainang
Ditongan dalan nang dung sahat ro di huta

Berangkatlah, hai putriku
Melahirkan kulit kayu melahirkan jali-jali
Berangkatlah, hai putriku
Melahirkan anak laki-laki melahirkan anak perempuan
Selamat sejahteralah, kau hai putriku
Jodohmu, menantuku, temanmu bahagia lengkap
Selamatlah, kau putriku
Di tengah jalan dan nanti setelah sampai di kampungmu

 Reff:

Unang pola tangisho Ai tibu do ahu ro
Sirang pe ahu sian ho Tondinghi gumonggom ho

Mengkel ma dainang
Sai unang tangis ho inang martuk tukian
Ingot martangiang
Asa horas hamu nalaho nang na tinggal

Tidak usahlah kau menangis, sebab aku akan cepat tiba
Walaupun aku berpisah denganmu, rohku memelukmu.
Tertawalah kau putriku

Tersenyumlah Putriku
Janganlah kau menangis sampai merunduk
Ingatlah berdoa
Supaya selamat kalian yang pergi dan kami yang tinggal

Tantangan berikutnya Datang, Saya menikmati  kebersamaan dalam pernikahan ini hanyalah 2 minggu. Karena saya harus menyelesaikan study saya di Medan, maka Suami harus kembali ke Kalimantan untuk Mencari Nafkah dan Mempersiapkan masa depan untuk sang kekasih hati.

Pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya, panas-panasnya, maknyus-maknyusnya, eh.. malah ditinggal jauh!  He..he..he, Ini adalah sebuah tantangan bagi saya dan suami. Rumah saya tinggalkan dan waktunya tinggal di Perumahan PERMAI (Perumahan Mertua Indah).

Gak nikmat lagi donk pengantin barunya..???

Ternyata Nikmat juga kok, hanya berat di Pulsa, tapi cintanya malah makin membara, mengingat, membayangkan dan menimbang dalam satu bulan ke depan akan bertemu lagi.

“Sayang, Kalau ketemu pasti deg-deg an” kalimatnya itu loh yang bikin makin deg deg an.

Dan sampai detik ini, Aku sanggup untuk hidup bersamamu, dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan tersulit dan tergenting yang kita hadapi. Aku yakin Tuhan memampukan kami untuk bertahan sampai Kakek Nenek tetap semesra ini.

Seperti Janji yang tak pernah terlupakan saat aku memasangkan cincin di jemari mu

” Aku menerimamu sebagai suamiku, dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat, dalam kaya maupun miskin”

Semakin hari cinta itu semakin Tumbuh dan kenangan Indah  dan perjuangan itu tidak terlupakan.

Kisah yang tak terlupakan ini diikutsertakan dalam GIVEAWAY 10th Years Wedding Anniversary :  Moment to Remember di blog nya Ladyonthemirror, yang merayakan pernikahannya.

 

 

 

Category: Family  Tags:  23 Comments