Peperangan jiwa

“aku tidak bisa memaafkanmu….” kata-demi kata terus berperang di dalam jiwanya….tapi bibirnya diam mengatup, hanya matanya yang menerawang menatap kosong…

Semua peristiwa itu telah berlalu lama, tetapi peperangan jiwa sering sekali muncul dan menghancurkan ketentraman hatinya. kemudian dia menangis dan memeluk guling di kamarnya. Pria yang terus menghampiri kekosongan jiwanya, pria yang tak pernah bisa hilang dari ingatannya.

“aku sudah mencoba.. tapi aku tidak pernah bisa..!”

“akhhhhhhhhhhh…”  hembusan nafasnya panjang dan berat. seluruh tulang-tulangnya tak lagi bertenaga dan air mata sudah mengalir membasahi pipi dan bantal.  berulangkali dia membalikkan tubuhnya, tapi hanya ada kegelisahan dan perasaan sakit.

“Mengapa ?”

“Seharusnya  kau tak lagi hadir disini.. di pandanganku..”

“aaaaaaaakhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” teriakan jiwanya semakin merasuki pikirannya.

Bibirnya komat-kamit mengikuti kata-kata dalam jiwa dan hatinya.

Dibawanya kembali pikirannya melayang jauh  menuju beberapa tahun lalu, rengkuhan dan  pelukan yang selalu menentramkan jiwanya, yang menantinya setiap pagi, menikmati suguhan di teras rumahnya. Yang selalu berjanji tak pernah meninggalkannya, yang akan selalu ada untuknya.

“apapun yang akan terjadi, aku akan selalu mencintaimu”

“aku tak akan pernah meninggalkanmu..”

Matanya menutup mengingat setiap kenangan itu. Air mata tak ingin berhenti mengalir, hidung nya sudah penat dan nafasnya sudah terasa berat.

“sudahlah .. tak perlu diingat…!”

“semua masa lalu itu adalah kenangan indah” sisi lain jiwanya berperang melawan segala amarah dan kenangan itu.

Baginya  hari itu, dia menjemputnya dengan senyuman, membelikan dua bungkus makanan kesukaan mereka, dan pergi bersama menuju lantai 5 gedung itu.

“Aku mencintaimu….”

“Maafkan aku.. aku ingin sendiri dulu..”

“Aku ingin fokus kepada karierku…” kata-kata itu yang telah membuat jantungnya hampir berhenti, pria itu memeluknya erat sambil menangis. dia hampir tak bisa mengeluarkan air mata, hanya diam dan tersentak sakit sekali.

“Apakah ada wanita lain..??”

“jawablah… jujurlah..” dia bertanya dengan pandangan kosong seperti hilang dari dunia ini.

“tidak.. sungguh tidak ada..” aku sangat mencintaimu, dan aku ingin suatu saat akan menikahimu.

Baginya semua itu hanyalah alasan… semua kesakitan itu, hingga dia tahu ternyata ada wanita lain disana, yang selalu dipungkiri.

Kali ini dia menggenggam seprai dan menghentakkan kepalanya dikasur itu. meraung tertahan dalam hatinya. Otot lehernya menegang menahan rasa sakit itu. Dan benar wanita itulah yang menjadi alasan.

“aku memaafkanmu.. sungguh..” sisi lain jiwanya terus berbicara

“aku sakit.. aku tidak bisa menerimanya..” tapi satu sisi jiwanya memberontak terhadap kenyataan yang menyakitkan.

“semua kata cinta adalah kebohongan..”

“tidak ada satupun yang pantas untuk kau percaya” dia gelisah… peperangan jiwa yang tak mampu dia atasi… kepalanya terasa berputar, berat sekali, kesesakan menghujam jantung dan dadanya.

Perasaan sakit menghujam jiwanya sendiri, antara amarah, kebencian dan kerinduan yang mendalam, kelopak matanya sudah membengkak, terasa sulit baginya untuk membukanya kembali, hingga akhirnya tertidur dalam peperangan jiwa.

—————————————————————————————————–

CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA
JIKA ADA KESAMAAN CERITA NYATA DENGAN DIRI ANDA, MOHON MAAF

—————————————————–

Sering sekali  kita berperang dengan diri kita sendiri, berbicara kepada diri sendiri, memaki diri sendiri, marah kepada diri sendiri, dan mendendam bersama jiwa sendiri.

Peperangan jiwa sering terjadi karena merasa tersakiti atau merasa bersalah, dan rasa damai hilang dari jiwa, yang membuat kita tak mampu berpikir dengan baik bahkan tidak mampu melakukan pekerjaan dengan benar.

Rasa sakit boleh menghampiri kita, sulit sekali memang untuk mengatasinya, tapi bukankah lebih baik kita memandang ke depan yang masih penuh dengan tantangannya masing-masing daripada diam dalam perasaan marah yang sama, perasaan tersakiti yang sama??

Jiwa dan hidup ini jangan mau tersia-siakan karena hal yang tidak penting, yang tidak menguntungkan sama sekali. Lupakan segala kesakitan, anggaplah itu kemarahan dan rasa sakit semalam yang tidak melebihi tantangan di depan yang sedang menanti.

Peperangan jiwa adalah hal yang tidak bisa terhindari, karena seribu kali kita berbicara kepada orang lain, telah sejuta kali kita berbicara dengan diri kita sendiri, entah itu karena amarah, kesal, emosional, atau kejengkelan terhadap orang lain.

Jadi….

Untuk apa membuat jiwa ini lelah dengan perkataan-perkataan negatif dengan berbicara dengan diri sendiri?? lebih baik berbicara dengan diri sendiri tentang hal-hal apa yang harus kita lakukan untuk mencapai mimpi di depan.

karna …

Karena tidak ada kata terlambat untuk berjuang meraih segala mimpi.. asal ada kemauan dan niat, Memaafkanlah dan jangan terluka terlalu lama

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
13 Responses
  1. itulah cinta kak..sakit jika dilukai..^^

  2. Monex fraud says:

    Setiap hari di sekolah tugas yang diberikan gurunya hampir tidak pernah selesai. Otak-atik pensil gosok2 buku bukunya sering bolong disetip goyang-goyang bangku melamun.

  3. J'BLOG says:

    mengapa kau tak mau memaafkanku sayank.
    apa karena peristiwa itu sehingga kau tak mau mendekatiku lagi

    salam sayank selalu

  4. Prima says:

    hmmm… seems like this post explains the previous ones *sotoy

    Peperangan jiwa pasti eprnah mengalami, tinggal sehalus apa orang itu mengontrol peperangan :)

  5. advertiyha says:

    Semoga peperangan jiwa dapat diatasi dan tidak menguasai diri kita… :)

    salam sayang kak…

  6. sedjatee says:

    meminta maaf adalah hal mulia
    memberi maaf adalah sangat mulia
    tetap semangat..

    sedj

  7. Ikkyu_san says:

    memaafkan dan melupakan ya?

    EM

  8. marsudiyanto says:

    Semoga tak ada perang lagi dalam diri kita

  9. marsudiyanto says:

    Nonton Peperangan Jiwa…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>