Di bawah sebuah Pohon Rambutan, dalam Ruang terbuka tanpa Dinding dengan Atap yang teduh, di Pamulang, aku duduk berdua dengannya. Sekali-sekali tangannya membelai rambutku dan Memelukku mesra sekali. Dia dekap tubuhku erat dan terkadang mencium pipiku.
Hari Itu bulan Juli tahun 1996, Aku masih duduk di kelas 3 SMU.
“Nanti kalau aku sakit, maka aku akan pergi ke rumahmu, waktu itu kau sudah akan menjadi dokter”
“Aku akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain”
“Aku akan mengunjungi semua Rumah anak-anakku”
Lalu Kami tertawa bersama-sama, berhayal bersama-sama tentang masa depan 20 atau 30 tahun ke depan.
Aku masih saja Menikmati hangat pelukannya, belaiannya dan hangat nafasnya ditubuhku.
Jumat, 02 Agustus 1996, Dia Pergi meninggalkanku selamanya, dengan menghembuskan nafas terakhirnya di R.S Fatmawaty. Hari itu aku sudah kembali ke Kota Medan untuk meneruskan pendidikanku di Sebuah SMA Swasta yang terkenal dengan disiplin dan pendidikannya, pada masa itu.
—————————————–
Ibu, Hari itu kita berhayal bersama, hayalan tentang cita-citaku menjadi seorang dokter, dan semua cita-citamu untuk berkeliling di rumah anak-anakmu menghabiskan masa tua.
Hari itu belum ada satupun diantara kami yang menikah, tapi kau sudah pergi untuk meninggalkan kami.
Aku tahu, hayalan kita itu tidak tercapai, aku tidak menjadi dokter, tetapi aku menjadi seorang Ibu bagi banyak-anak-anak murid. Tapi aku bahagia IBU.
Kau memang tidak pernah menghabiskan masa tuamu untuk berkeliling rumah anak-anakmu, tetapi kenanganmu itu terus mengikuti keluarga kami.
Kini kami semua sudah menikah, dan kami bahagia, doamu selalu mengikuti kami, dan Bunga-bunga itu masih selalu segar di makammu, sebagai tanda kami terus mengingatmu IBU.
Saat ini Akupun masih terus mengenangmu, aku tidak lagi menangis mengingatmu, Bu! tapi aku Bangga kau telah melahirkanku ke dunia ini. Aku memang bukan dokter seperti hayalan kita itu, tapi aku merasa seperti dokter di dunia ini, yang bisa memberikan sedikit saja senyuman bagi anak-anak Negeri ini.
IBU AKU BANGGA PADAMU SELAMANYA



mbak Lely termasuk dokter kok.. dokter pendidikan buat generasi bangsa
Mana mungkin kita lupa akan kasih seorang ibu…
Mana mungkin kita lupa akan kasihnya seorang ibu…
selamat siang bu guru mampir sejenak sebelum ke masjid
mamak mbak Ly pasti bangga disana.. kenangan yang indah bersama ibu memang kenangan yang paling manis dan selalu dirindukan untuk diingat kembali yaa mbak.. hehe
Khayalan bisa menjadi kenyataan jika diupayakan dengan sungguh-sungguh.
Tetapi 12 Blogger ngeTIP bareng bukan suatu khayalan melainkan keinginan untuk berbagi pengalaman bagaimana cara mendapatkan ide dan mengembangkannya menjadi artikel menarik dan bermanfaat.
salam hangat dari Surabaya
ceritanya sangat mengharukasn sekali
Saya juga bukan dokter Mbak…
Juga bukan blogger
Terharuuu mbak T.T
Semoga ibunya bahagia di sana
weleh-weleh keren nih blog walking ya
para ibu memang pahlawan sejati bagi anak2nya
Jumialely, artikel yang sangat menyentuh. Membacanya bunda serasa jadi seorang ibu yang paling beruntung. Allah masih memberikan kesempatan kepada bunda untuk berkeliling dari rumah satu anak kerumah anak yang lain, dan kembali kerumah bunda sendiri setelah selang dua mingguan. Ini akan menjadi rutin tugas keliling bunda sesuai permintaan anak-anak. Alhamdulillah. Do’akan ya bunda selalu sehat dan Allah akan menjemput bunda dalam keadaan khusnul khotimah, tanpa penyakit yang menggerogoti bunda sehingga bunda tidak merepotkan anak-anak tercinta. Semoga saja. Koq jadi curhat.com, hehehehe….
Amin Bunda, semoga bunda selalu sehat, dan menjadi ibu yang berbahagia.
terima curhat 24 jam kok bun
manggilnya IBU juga?
Atau nande? atau mamak?
saya belum bisa tidak menangis kalau ingat Mamak, mungkin karena baru 5tahun ya Eda …
selamat hari Ibu!
mamak Eda,
Saleum,
Kita selalu bangga pada sosok lembut Ibu, walaupun telah berlalu, berdoalah untuk beliau
saleum dmilano
Saleum..!
Saya selalu Bangga, bahagia dan mengenang