Tag-Archive for » cerita fiksi «

Goresan di Puncak Hijau

 

“huff”

Aku masih mendekapkan kedua tanganku di dada, udaranya terlalu dingin membuat pipiku terasa begitu kaku.

Masih Jauh” gumamku, kakiku melangkah perlahan untuk mencapai puncak itu, puncak hijau yang ingin ku sentuh. Bukit Hijau yang selalu datang dalam mimpi-mimpiku.

“Ayolah..!”
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu” Torry menarik tanganku sedikit memaksa

“Apa sih Tor?, sejam lagi kami akan berangkat!”

“Please!, sekali saja Ra, please! Please! Please!” tatapan memohon membuatku luluh juga. Semoga mama tidak akan marah jika aku telat sebentar saja.

Seperti kuda liar di hutan luas, kami terus berlari menapaki bukit itu, Torry terus memegang tanganku mengikuti langkahnya. Kakiku mulai terasa gemetar dan nafasku beradu cepat dengan degup jantungku yang berlomba bersama waktu.

“Sretttt”
“akhh.. “ Aku tergelincir, tetapi tangan itu masih begitu kuat menahan tubuhku.

Benar-benar hal gila yang telah kami lakukan, mungkin saja aku akan jatuh pingsan kelelahan, atau aku akan kehabisan nafas dan tak bertemu mama lagi.

“Hayolah Ra, sedikit lagi,”

“Lihat pohon di puncak bukit ini, sudah dekat Ra, kamu pasti bisa”

Satu dua nafasku beradu, aku berhasil mendaki pundak hijau, tepat kakiku  melangkah di bawah sebuah pohon tua, batangnya tujuh  kali lebih besar dari tubuhku, tingginya seakan mencapai langit.Pohon yang beberapa hari lalu selalu kunikmati dari kejauhan sejak tiba di desa ini, ternyata aku bisa sedekat ini.

“Kita berhasil, Ra.” Torry tersenyum menggenggam tanganku, suaranya terputus bersama suara nafasnya.

“Apa Tor?”
“Untuk apa ?” hanya pertanyaan singkat yang langsung dimengerti oleh Torry.

Besi berukuran tipis sudah ada ditangannya, kemudian diberikannya kepadaku

“Ukirkan namamu dikulit Pohon ini, Ra!, Please!

“Ok!” , “ Demi persahabatan kita” seruku sambil tersenyum.

DARA” Akhirnya aku berhasil mengukir namaku di kulit pohon yang mengagumkan itu.

“dan.., aku akan menuliskan ini untukmu!” Torry tersenyum sambil menyentuh ujung hidungku dengan jemarinya, kebiasaan yang tak pernah dia lupakan jika sedang meledekku. Lalu mengukir sesuatu di sana.

“Tor, Aku duluan!” Langsung saja aku berlari menuruni bukit, waktu sudah tidak cukup lagi untuk menunggunya, semoga aku tidak telat sampai di rumah.

“Ra!” teriakan itu sayup di telingaku, aku sudah berlari terlalu jauh, dan wajahnya tidak terlihat di puncak bukit.

Pertemuan terakhir dengannya, cerita tidak pernah terdengar lagi dalam persahabatan kami. Kecuali beberapa hari lalu, ketika aku membaca berkas pasien yang melakukan pemasangan kaki palsu. Aku tersentak melihat nama ‘TORRY’ di dalam catatan itu, dengan usia, ciri, dan alamat di desa yang sama. Pria yang selalu hadir dalam tidurku, sahabat yang tak pernah membiarkan setetes airpun mengalir di mataku.

Dingin semakin menusuk menembus ke jantungku, ujung jemariku terasa begitu dingin dan kaku, tetapi semangat untuk mencapai puncak itu tak membuatku menyerah.

“Kamu bisa, Ra” aku bergumam menyemangati diriku.

Bukit ini masih sama seperti 13 tahun lalu, masih terlihat pohon tua itu berdiri kokoh, ujung kakiku yang begitu dingin telah menyentuh tanah tempatnya berdiri tegar.

“ya, Tuhan!” Aku menangis

‘DARA, AKU MENUNGGUMU SAMPAI NAFASKU BERHENTI’

‘DARA, AKU MENCINTAIMU MESKI KAU TAK PERNAH TAHU’

‘DARA, PULANGLAH KE PELUKANKU SAAT KAU TERLUKA’

‘DARA, AKU MASIH AKAN MENUNGGUMU SEBAGAI KEKASIH, BUKAN SAHABAT’

Seharusnya aku menyadari cinta ini lebih awal, bukan hanya dalam mimpiku, seharusnya aku merasakan makna setiap sentuhan dan tatapannya. Cinta yang membuatku terluka, cinta yang takut untuk aku nikmati.

“Ra, Aku yakin akan kekuatan cinta”

“Aku yakin karena kau adalah milikku”

Suara itu membangunkan kesedihanku, Pria tampan dengan sebuah kaki palsu berdiri tegak di hadapanku, tersenyum begitu lembut, aku berlari kesana, benarkah itu dia, semoga ini bukan mimpi.

“Tor..!” aku terisak dalam pelukannya, aku menangis menumpahkan semua rasa yang kuingikari, ini bukan mimpi.

“Aku mencintaimu!” aku tak lagi malu mengatakannya, ingin terus dalam pelukannya.

“Meski dengan kaki palsu ini, Ra?”

Wajahnya tegar menyentuh daguku, menatap wajahku lembut. Aku hanya mengangguk, membenamkan kembali wajahku di dadanya, menikmati detak jantungnya, hangat desah nafasnya menembus ujung kepalaku.

Tiga belas tahun yang lalu, kaki itu terluka ketika berusaha mengucapkan selamat jalan untuk kepergianku, sebuah sepeda motor merenggutnya, tapi Torry tetap memiliki semangat hidup, hanya untukku.

Namaku masih terukir di puncak Hijau, dan dia masih menungguku disana, dengan senyuman dan keyakinan, bahwa cintanya suatu hari akan kembali  untuknya.

“Ra, Menikahlah denganku”

Anggukanku mengiringi langkah kami, meninggalkan goresan cinta di Bukit Hijau, yang akan selalu menjadi rumah kenangan. Dingin telah menjadi kehangatan bagiku.

————————–

Cerita ini hanya Fiktif belaka,

Keyakinan akan membawamu pada cinta yang sejati, meski banyak hal menyakitkan yang harus dilalui bersama”

 

 

 

 

 

 

 

Demi Menjemputmu Kembali

Kecubung 3 Warna

Cerita sebelumnya ditulis oleh Hanila Hussein di pendarbintang.wordpress.com yang berjudul “Cinta tak bersyarat” :” Nadine adalah putri satu-satunya dari Ibu single fighter yang hidup sederhana dan taat dalam Agama. Beberapa hari dia harus menginap  dirumah ibunya , karena sang suami sedang perjalanan tugas ke luar kota. Pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah merubah jalan hidupnya dan mengangkat harga dirinya. Satu Saat ketika telepon berdering, entah berita apa yang diterima Nadine sehingga tubuhnya menjadi lemas lunglai, matanya berkaca-kaca, bahkan akan jatuh tersungkur seandainya ibunya tidak segera menangkapnya ke dalam pelukannya. Telepon ikut terjatuh dari tangan Nadine. Ibunya tahu pasti sesuatu telah terjadi, dan itu membuatnya khawatir ..”


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
 Lewati rintang untuk aku anakmu
 Ibuku sayang masih terus berjalan
 Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah 
(Ibu - Iwan Fals)
----------------------------------------------------

Nadine..!” Ibu menepuk pipi Nadine yang terkulai  dipelukannya, air  mengalir dari sudut mata itu dan tidak mau berhenti.

Halo…” Ibu Nadine mengangkat telepon yang masih tergantung

Ada apa mbak apa yang terjadi? ingin memastikan berita apa yang di dengar putrinya sampai membuatnya seperti itu

Begini Bu, kami dari Pihak Kepolisian ingin memastikan apakah benar Ibu Nadine Istri Bapak Herdi, Karena kami sedang mengotopsi jenazah Beliau

Innalilahi wainnailaihi rojiun..” Air Mata  menggenangi pipinya, dipeluknya erat putrinya dengan perasaan luka yang sangat dalam, entah apa yang akan terjadi dengan putri semata wayangnya.

Di Pemakaman suara isak tangis keluarga masih terdengar, terutama Nadine yang usia kandungannya masih 3 bulan,  terlihat sangat terpukul. Dia tak pernah menyangka akan menjadi janda di usia semuda itu dan more…

Tentang Keabadian

“Terpahatlah sudah dalam darahku tentang keabadian cintamu, dan aku tak pernah bisa melupakanmu” (jumialely, 15 Februari 2011)

———————————————————————————————————————————————————————————————

bye Mom….!” pelukan hangat mengantarkan kepulanganku ke kota Medan, rasanya berat sekali meninggalkan terminal cililitan dan melepaskan pelukan mama.

Hati-hati sayang” dengan senyuman hangat yang membuatku tak pernah mampu melupakannya.

Aku bukan anak manja dan bukan anak konglomerat, tapi aku masih selalu bersandar kepada mama, segalanya.

Sabun mandi, coklat, buku..eits..Coklat.. ini yang kita tunggu” gerai tawa teman-teman di asrama Putri SMA tempatku menuntut ilmu menambah keceriaanku. Apalagi kalau bukan kiriman mama yang selalu datang setiap awal bulan. Mama paling tahu apa yang kubutuhkan. Bahkan tak melupakan untuk mengirimiku pakaian khusus wanita. Mama paling mengerti aku.

Mia, ada tamu” Kepala asrama memanggilku, dan kutemui sepupuku sedang duduk di ruang tunggu, dengan wajah sedih dan jelas terlihat ada air mata yang siap tumpah dari bola matanya, tetapi tertahan agar tidak sempat mengalir.

ayo dek, kita pulang, Nenek meninggal dunia” katanya dengan air mata yang mengalir

Aku memang manusia biasa, tapi aku memiliki rasa dan ikatan batin yang kuat. Aku tau  ada yang tidak beres, pasti terjadi sesuatu dengan mama dan papaku. Tidak mungkin dengan nenekku.

Kepalaku terasa pusing, aku seperti melayang dan tak merasakan tubuhku menginjak tanah. Aku tahu aku terbawa pada satu ketakutan, ketakutan akan kehilangan seseorang yang aku sayangi.

sabar mia“  Asih sahabat karibku memelukku, erat sekali. Dan aku tak tahu sedang dimana, aku menjadi bodoh, hanya bingung, menangis tak menentu.

Sulit sekali mendapatkan tiket pesawat di hari Sabtu, semua keluarga sibuk, entah apa yang mereka kerjakan. Aku seperti kehilangan jiwaku, hanya diam membisu.

Mama…..” Isak tangis tak mampu kutahan, aku tak mampu menatap wajah mama yang tersenyum tapi membeku. Jakarta Begitu dingin malam itu, sedingin dan sebeku jiwaku. Sakit Sekali, remuk seluruh jiwaku. Entah kemana aku akan pergi setelah ini. Entah dengan siapa aku akan bercerita tentang hari-hariku.

Mama selalu mengingatmu, bahkan sebelum meninggal dia hanya memanggil kamu dek..” kakakku menangis memelukku.

Dia tertawa sebelum pergi…. mengingatkan untuk membeli sabun wajah untukmu” Kali ini aku tak mampu lagi menahan kesesakan dalam jantung. Aku terhimpit dalam rasa sakit dan kehilangan.

Hanya sehari aku ada di rumah setelah pemakaman mama, dan pesawat kembali membawaku terbang ke Kota Medan.

Tak boleh kusia-siakan..” gumamku

Aku harus bisa.. demi mama, aku harus kuat..” Aku tahu aku harus menjalani ujian di kelas 3 SMA untuk dapat lulus dan mewujudkan semua impian mama. Mama yang selalu bersemangat bangun di pagi hari, selalu ceria meskipun hatinya terluka dan sedang bersedih. Dan aku akan selalu membuat mama tersenyum.

Meski mama tak pernah ada disisiku lagi, meski ragamu adalah tentang ketidakabadian, tapi Senyuman yang telah kau ukir dalam darahku, Semangat yang telah kau pahat dalam desah nafasku, mimpi yang telah kau hidupkan dalam setiap denyut nadiku akan tetap abadi.

“ma, aku sudah berhasil mewujudkan sedikit mimpimu….” Kududuk dan bersujud di hadapan Pusara mama, meneteskan air mata bahagia dan senyuman terindah yang tetap hidup hingga hari ini.

mama..

“Terpahatlah sudah dalam darahku tentang keabadian cintamu, dan aku tak pernah bisa melupakanmu”

Pesan Moral

Ketika kita kehilangan Orang Tua, tak berarti kita kehilangan segalanya, tapi lebih bersemangatlah mewujudkan semua mimpi mereka, dan biarkan mereka tersenyum menatap kita dalam keabadian Cinta yang telah terpahat.