Tag-Archive for » malam «

Bersama Angin

Matahari sudah tertidur pulas

Angin masih berlari menerjang wajah gadis berkacamata

Helai rambutnya kian berantakan

Sudut jemari menatanya perlahan

Angin tak perduli masih saja terus menerjang

Gadis berkacamata Menunduk menghindar

Air mengalir disudut matanya

Perih tersentuh Angin malam

Debu melekat di lubang kecil lembut wajahnya

Disapu lembut telapak tangannya

Bersama Angin terus bergumul

Bertarung bersama gadis berkacamata

 

 

 

 

Selubung Senja

Antara gelap dan terang
Selubung senja menyapa
Kilat bersambut menyapa langit
Bulan datang terlalu siang
Dengan wajah yang lebih pucat

Angin lebih dingin dari biasanya
Menghujam keras menyusup ke dalam jantung
Biru langit bercambur kelam
Kilat menari-nari tak perdulikan pucat warna rembulan
Meski selubung senja tak lagi memerah

Selubung senja perlahan mundur
Bulan tak lagi sepucat tadi
Gelap menggantikan senja diantara suara burung hantu
Angin semakin ngilu menusuk ke dalam tulang
Suara riuh saling bersahutan
katak-katak bernyanyi tak perdulikan langkah kaki

Selubung senja terganti oleh malam
Dingin tertawa bersama suara malam
Rembulan bersinar terang
Kilat pun enggan untuk saling menyapa
Langit menjadi biru meski kelam
Selubung senja menyingkir menepi

Tercabik oleh Rindu

Disudut malam kaki ini kuselonjorkan saling menyentuh antara kedua Ibu jarinya…….tulang punggung tegak bersandar pada dinding putih tepat di bawah jendela.

Menengadah aku memandang langit-langit kamar, beradu antara kedua mata dan sinar lampu yang menyilaukan. Berulang kali tarikan nafas yang panjang terhempas dari mulut dan kutarik selama mungkin udara dari hidung, hingga memenuhi rongga dada yang terasa menyesakkan.

Mengapa perasaan ini tercabik oleh kerinduan, kerinduan yang menyesakkan, seakan membawaku dalam kebekuan malam diantara dingin yang menusuk dan hujan yang bergemuruh diantara gelapnya malam.

Kerinduan akan desah nafas dan suara,  tercabik tak terobati oleh sebaris kalimat atau sepotong kata…. Kutekuk kedua lututku sembari meletakkan kedua  tanganku diatasnya.. tersembunyi tenggelam wajahku disana memandang hanya pada garis-garis tipis di lantai, setetes air mengalir disudut mataku, entah kapan tetesan itu berhenti…aku tidak menyadarinya.

Aku telah tergeletak tanpa alas dan selimut, tersadar karena dingin yang perlahan menusuk kedalam tulang belulang dan ujung jemariku.

Kerinduan ini Menyesakkan dada