Disudut malam kaki ini kuselonjorkan saling menyentuh antara kedua Ibu jarinya…….tulang punggung tegak bersandar pada dinding putih tepat di bawah jendela.
Menengadah aku memandang langit-langit kamar, beradu antara kedua mata dan sinar lampu yang menyilaukan. Berulang kali tarikan nafas yang panjang terhempas dari mulut dan kutarik selama mungkin udara dari hidung, hingga memenuhi rongga dada yang terasa menyesakkan.
Mengapa perasaan ini tercabik oleh kerinduan, kerinduan yang menyesakkan, seakan membawaku dalam kebekuan malam diantara dingin yang menusuk dan hujan yang bergemuruh diantara gelapnya malam.
Kerinduan akan desah nafas dan suara, tercabik tak terobati oleh sebaris kalimat atau sepotong kata…. Kutekuk kedua lututku sembari meletakkan kedua tanganku diatasnya.. tersembunyi tenggelam wajahku disana memandang hanya pada garis-garis tipis di lantai, setetes air mengalir disudut mataku, entah kapan tetesan itu berhenti…aku tidak menyadarinya.
Aku telah tergeletak tanpa alas dan selimut, tersadar karena dingin yang perlahan menusuk kedalam tulang belulang dan ujung jemariku.
Kerinduan ini Menyesakkan dada


